Rabu, 10 April 2013

                                      Pentingnya Ilmu Bagi Kehidupan Manusia PDF Print E-mail
Written by Mudjia Rahardjo   
Wednesday, 10 October 2012 07:55
Pagi itu saya memberi kuliah sesuai jadwal.  Seperti biasanya, untuk mengawali perkuliahan, saya lebih dulu menanyakan tugas-tugas yang pernah saya berikan atau apa ada kesulitan mengerjakan tugas tersebut. Anehnya, kok tidak ada respons. Saya merasa suasana perkuliahan tidak seperti biasanya di mana para mahasiswa aktif bertanya dan berdiskusi secara serius. Malah kadang-kadang waktu untuk berdiskusi tidak cukup. Saya tidak tahu mengapa itu terjadi, mungkin karena lelah atau sebab-sebab lain.
Melihat suasana seperti itu, saya berpikir untuk tidak masuk materi kuliah, tetapi memberi motivasi lebih dulu. Saya memotivasi mereka melalui sebuah hadis. Saya ingat ada hadis di mana Ibn.  Abbas r. a  berkata “Nabi Sulaiman a.s. diberi kesempatan untuk memilih antara harta, kerajaan,  dan ilmu, maka ia memilih ilmu, maka diberi kerajaan dan kekayaan, karena ia memilih ilmu, maka yang lainnya ikut padanya” (HR. Ibn. Asakir n Addailami).
Saya berharap dengan hadis tersebut, semangat para mahasiswa bisa tumbuh kembali seperti semula. Dugaan saya tidak meleset. Hadis tersebut mampu menggugah semangat mahasiswa, sehingga suasana bisa menjadi hidup. Saya pun semakin bergairah mengurai pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia.
Mungkin ada yang bertanya apa relevansi hadis tersebut dengan matakuliah Metodologi Penelitian? Menurut saya isi hadis tersebut sangat relevan dengan tujuan matakuliah Metodologi Penelitian. Sebagai sebuah disiplin ilmu, Metodologi Penelitian secara khusus membahas  mengenai cara meneliti untuk menemukan kebenaran secara ilmiah untuk selanjutnya dipakai sebagai dasar mengambil kebijakan lebih lanjut, dan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tak siapapun meragukan bahwa hanya lewat penelitian ilmu pengetahuan dapat berkembang. Selanjutnya juga bisa dikatakan bahwa jika suatu bangsa ingin maju dalam ilmu pengetahuan, maka tidak ada cara lain kecuali menjadikan penelitian sebagai bagian dari tradisi bangsa itu. Kita bisa melihat bangsa yang telah maju peradabannya tidak bisa dipungkiri telah menjadikan penelitian sebagai tradisi kehidupannya.
Memang penelitian bukan satu-satunya cara untuk mencari kebenaran. Sebab, sebagaimana pandangan para ilmuwan, kebenaran juga bisa diperoleh dari hasil kerja panca indra, sehingga kebenaran yang dihasilkan disebut kebenaran indrawi. Setiap manusia tentu bisa memperoleh kebenaran jenis ini, karena semua manusia dilengkapi dengan panca indra. Tetapi karena indra manusia lemah, maka tingkat kebenaran yang dihasilkan juga tidak begitu kuat.
Selain itu, kebenaran juga bisa diperoleh dari renungan mendalam yang biasanya dilakukan oleh para filsuf. Masalahnya tidak semua orang bisa melakukan hal ini karena diperlukan keseriusan, ketekunan, dan kesediaan berkontemplasi secara ilmiah. Kebenaran juga bisa diperoleh dari agama. Kebenarannya bersifat absolut dan doktriner. Kebenaran jenis ini hanya diperoleh dan diterima oleh orang-orang beriman saja. Orang yang tidak beragama tentu tidak bisa menerima kebenaran jenis ini sama sekali, dan memikirkan hal tersebut dianggap membuang-buang waktu saja.
Selanjutnya, kebenaran juga bisa diperoleh melalui aktivitas ilmiah, yang disebut  penelitian. Biasanya dilakukan oleh para peneliti. Kebenarannya disebut kebenaran ilmiah. Seperti kebenaran filosofis, kebenaran ilmiah juga tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Sebab, untuk bisa meneliti diperlukan beragam pengetahuan yang mendalam mulai apa yang diteliti, di mana dilakukan, siapa yang dijadikan subjek, hingga bagaimana cara menelitinya dan untuk apa penelitian itu dilakukan. Selain itu, diperlukan pula  kejujuran, ketekunan, ketelitian, dan tentu kecerdasan. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa menjadi peneliti.
Kembali ke pertanyaan di atas apa manfaatnya ilmu bagi kehidupan manusia. Mengapa Nabi sampai menyampaikan hadis yang terkait dengan ilmu. Dalam pandangan Islam, manusia adalah khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah , manusia diberi otoritas sepenuhnya untuk memanfaatkan semua yang diciptakan Allah, baik yang ada di darat dan di laut, bahkan di udara  untuk kemaslahatan dan  kesejahteraan hidup manusia itu sendiri. Untuk bisa memanfaatkan semua yang telah diciptakan Allah diperlukan ilmu pengetahuan. Lewat ilmu pengetahuan, manusia tidak saja bisa memanfaatkan semua cipataan Tuhan untuk kepentingan mereka, tetapi juga mampu mengungkap misteri di balik semua ciptaan itu hingga sampai pada simpulan bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Semua bermanfaat, tetapi tidak semua manusia mampu memahaminya karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki.
Ilmu pengetahuan tidak terbatas pada ilmu tentang alam atau yang disebut sebagai ilmu alam (natural sciences) seperti kimia, fisika dan biologi, tetapi juga  ilmu-ilmu sosial dan humaniora, seperti sosiologi, antropologi, sejarah, ekonomi, politik, bahasa, sastra, seni, filsafat dan sebagainya. Orang bisa memilih di antara ilmu-ilmu  tersebut untuk ditekuni secara serius, sesuai minat dan kompetensinya. Tidak ada ilmu yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Pada hakikatnya semua ilmu memiliki derajat yang sama. Yang membedakan adalah wujud realitas yang dikaji dan tujuannya.
Timbul pertanyaan di mana orang bisa mencari ilmu? Apakah mesti belajar jauh di negeri yang sudah maju? Menurut saya untuk ilmu-ilmu sains dan teknologi penting belajar di negeri yang sudah lebih dulu maju, seperti di Eropa, Amerika, Australia  dan sebagainya. Tetapi untuk ilmu-ilmu sosial dan humaniora, kita bisa belajar dari lingkungan dan masyarakat kita sendiri. Pada hakikatnya ilmu sosial adaah ilmu tentang kita. Karena itu, kita sendiri yang mestinya mempelajari dan mengembangkannya.
Sebagai bukti, Indonesia telah lama menjadi lokus penelitian para ilmuwan sosial dari luar negeri, seperti sosiologi, antropologi, politik bahkan agama. Ibaratnya, Indonesia merupakan laboratorium raksasa tempat para ilmuwan sosial melakukan penelitian. Lewat karya para ilmuwan sosial, dari Indonesia lahir teori-teori  sosial besar dalam ilmu politik seperti teori tentang kekuasaan masyarakat Jawa  oleh Benedict Anderson, dalam bidang antropologi tentang struktur masyarakat  Jawa (Abangan, Santri dan Priyayi) yang ditawarkan oleh Clifford Geertz. Tesis Clifford Geertz tak bisa dipungkiri menjadi salah satu teori dasar antropologi.
Ada juga teori politik aliran sebagaimana ditawarkan oleh ilmuwan politik Herbert Feith dan Lance Castle. Teori-teori tersebut pada hakikatnya menjadi teori besar  yang bisa dikembangkan oleh para ilmuwan dan para pengkaji ilmu sosial berikutnya.
Teori-teori tersebut bisa saja telah dikritisi, bahkan direvisi oleh para ilmuwan sesudahnya. Tetapi tidak berarti teori itu tidak ada gunanya. Setidaknya teori itu telah menjadi tonggak dan pijakan yang bisa dipakai untuk memahami gejala-gejala  sosial secara kritis, yang terkait dengan masalah politik, sosial, antropologi dan sejenisnya. Karena itu, betapa besar peran seorang peneliti bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Jika demikian, belajar Metodologi Penelitian tidak akan sia-sia. Siapa tahu bisa menjadi peneliti beneran yang kelak bisa mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagaimana pilihan yang dijatuhkan oleh Nabi Sulaiman tatkala beliau diberi tawaran antara harta, kekuasaan dan kerajaan. Nabi Sulaiman a. s.  ternyata lebih memilih ilmu. Pilihan Nabi Sulaiman tepat, sebab dalam sejarah hidupnya kita mengetahui bahwa beliau tidak saja memperoleh ilmu, tetapi juga harta dan kekuasaan melalui kerajaan yang dipimpinnya.
Apa yang tulis di atas adalah ringkasan dari penjelasan saya kepada mahasiswa, bukan tentang isi materi perkuliahan, melainkan berupa motivasi agar para mahasiswa bersemangat dalam menuntut ilmu. Melalui hadis itu, saya ingin menanamkan suatu nilai bahwa memilih ilmu lebih dahulu  ketimbang harta dan kekuasaan merupakan pilihan yang tepat. Karena itu, jika seseorang sudah memperoleh kesempatan studi, apalagi hingga pascasarjana,  jangan sampai waktu berlalu dengan sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar